Kapal tua III
PERANG DI ATAS KAPAL
Awal mulai
Kematian adipati Unus membuat perpecahan di antara para penguasa, sultan Trenggana yang mengantikan adipati Unus ternyata membunuh pangeran sekar seda ing lapen melalui tangan anaknya yang bernama sultan Prawoto sebelum pelantikan nya
Sultan Trenggana: "Bunuhlah pangeran sekar agar kita dapat bekuasa"kata sultan Trenggana kepada anaknya
Sultan Prawoto:" Bagaimana cara aku membunuhnya? "Tanya sultan Prawoto
Sultan Trenggana:Bunuhlah dia ketika sedang di pinggir sungai"
Sultan Prawoto: "Baiklah akan ku perintahkan anak buahku untuk membunuhnya."
Setelah mendengar kematian pangeran sekar tahta raja Demak di ambil alih oleh Sultan Trenggana, dan pangeran sekar mendapatkan gelar Pangeran sekar seda ing lapen.
Seperti karma akhirnya sultan Trenggana dibunuh oleh anak berusia 10 tahun atas perintah Portugis saat menguping setrategi perang dia ditusuk di dadanya sampai dia tewas.
Akhir nama kerajaan Demak
Sultan Prawoto sebagai ahli waris raja ketiga, kini menempati posisinya sebagai pemimpin keempat Kesultanan Demak. Melalui catatannya, Manuel Pinto yang berasal dari Portugis mengungkapkan, kepala Demak baru ini berniat menyebarkan agama Islam ke seluruh Jawa.
Dari cita-citanya ini, akhirnya ia lebih terlihat seperti seorang pemuka agama dibanding pemimpin sebuah kerajaan. Bahkan, hal tersebut menyebabkan beberapa wilayah kuasa Demak melepaskan diri dan menjalankan pemerintahan secara inependen.
Arya Panangsang diperintah Sunan Kudus untuk membunuh Sultan Prawoto dan mendapatkan kembali tahta Raja Demak.
Dalam menjalankan aksinya, Sunan Kudus merekomendasikan Rangkud kepada Arya Panangsang. Pada 1547, Rangkud berhasil membunuh Prawoto beserta istrinya. Akan tetapi, pembunuh tersebut juga mati di tempat kejadian perkara.
Dendam dari Arya Panangsang akhirnya sudah terbalaskan dan ia resmi menjadi Sultan Demak kelima. Namun, anak Prawoto yang bernama Arya Panggiri malah melanjutkan tali dendam tersebut karena kedua orangtuanya mati dibunuh Arya Panangsang.
Kasus ini semakin rumit ketika pembunuhan bukan hanya dilakukan pada Prawoto. Namun, juga Raja Jepara yang meninggalkan istri bernama Ratu Kalinyamat, yang masih termasuk saudara raja keempat Demak.
Dari kejadian yang dinilai kejam ini, akhirnya beberapa kerajaan di bawah kuasa Demak memutuskan untuk memberontak pada 1554. Seorang tokoh yang terkenal bernama Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dari Kerajaan Pajang.
Ternyata, sebelumnya Ratu Kalinyamat meminta bantuan juga kepada Hadiwijaya untuk membalaskan dendam. Pada akhirnya, Arya Panangsang menemui ajal karena ditusuk Sutawijaya, anak (angkat) Hadiwijaya, ketika pemberontakan itu.
Kerajaan Demak pun Hancur!!!

Komentar
Posting Komentar