Kemalasan?

Ah, makhluk lembek tak berkaki
yang merayap pelan dari sela-sela jam
dan berbisik mesra pada kelopak mata yang enggan pudar.

Aku bangun, lalu duduk.
Lalu duduk lebih dalam.
Lalu rebah dalam kedalaman duduk,
hingga dunia terasa datar
dan cita-cita cuma jadi hiasan di dinding retak.

"Bangkit!" katanya.
Tapi siapa yang bicara?
Aku?
Kau?
Atau suara-suara tak bernama
yang tinggal di bawah kuku dan sela pikiran?

Aku menyuruh tangan menulis,
tangan malah menggambar lingkaran tanpa ujung.
Aku menyuruh kaki berjalan,
ia malah ingin menjadi batu.

Tapi cukup.
Hari ini ku bunuh kemalasan
bukan dengan semangat,
tapi dengan kegilaan kecil yang jujur.

Aku mandi tanpa alasan.
Aku menulis tanpa topik.
Aku tertawa pada dinding,
lalu bertanya pada bayangan yang tidak menjawab.

Karena kadang, satu-satunya cara membunuh diam
adalah dengan mengajaknya menari
di lantai absurd
yang tak pernah dijelaskan oleh siapa pun
bahkan oleh Tuhan

Fadlians, Tegal 23 Mei 2025

Komentar

Postingan Populer