Sebuah sarkasme dari surga yang di tambang
Selamat datang, Raja Jawa,
pahlawan investasi, pembawa berkah industri!
Silakan duduk di atas karang—
yang dulu hidup, kini jadi kursi batu
berlapis lumpur tambang hasil kerja kerasmu.
Mari kita rayakan kemajuan!
Terumbu karang kami telah berubah fungsi:
bukan lagi rumah ikan,
tapi dasar limbah nikel kelas dunia.
Bayi penyu pun belajar migrasi dini—
kabur sebelum airnya berubah menjadi logam cair.
Pulanglah, ceritakan pada dunia:
Papua sudah maju!
Ada jalan tol ke lubang tambang,
ada baliho bertuliskan “Konservasi Berkelanjutan”
di atas tanah yang sudah tak bisa ditanami.
Cerdas! Efisien!
Hutan bisa tumbuh lagi kok—di PowerPoint.
Suku Kawei?
Ah, jangan terlalu romantis.
Mereka cuma penduduk lokal yang ketinggalan zaman,
tak tahu bahwa batu nikel lebih berharga
dari leluhur dan tanah warisan.
Berikan saja pelatihan keterampilan:
"cara hidup tanpa laut dan hutan, edisi revisi UU Minerba."
Jauhkan Raja Ampat dari Raja Jawa—
bukan karena kami benci,
tapi karena kami muak.
Muak pada kata “pemerataan”
yang artinya: yang jauh dikuras,
yang dekat diistimewakan.
Kami tahu, kami hanya pinggiran peta,
sementara kalian pusat peradaban.
Tapi tolong, saat kalian merancang masa depan
jangan jadikan surga kami
sebagai halaman catatan kaki dalam laporan tahunan.
Dan jika kalian masih ingin menambang,
mungkin tambang saja nurani kalian.
Barangkali di sana masih tersisa
secarik rasa malu.


Komentar
Posting Komentar