Sandiwara
Kita, manusia, aktor di panggung semesta,
Berpura-pura paham, seolah hidup ini ada skenarionya.
Membuat teori, filsafat, dan narasi besar,
Namun diam-diam, tak satu pun dari kita benar-benar sadar.
Mengapa kita bertanya tentang asal dan tujuan,
Padahal hidup berjalan tanpa banyak perhitungan?
Kita mencari makna di dalam buku-buku usang,
Namun makna itu menguap, tak pernah tinggal di tangan.
Kita bicara tentang cinta yang abadi,
Namun tenggelam dalam hubungan yang sementara, penuh janji-janji.
Kita berharap pada keabadian,
Padahal setiap langkah menuju kefanaan tanpa pemberitahuan.
Kita berdebat tentang kebebasan, tentang pilihan,
Namun ironisnya, terperangkap dalam rutinitas dan kebiasaan.
Kebebasan hanya fatamorgana di tengah padang pasir,
Kita mengejarnya, namun ia lenyap ketika didekati, tak pernah hadir.
Kita memuja kebijaksanaan,
Namun tetap melakukan kesalahan yang sama, berulang dalam diam.
Berbicara tentang kehidupan yang bermakna,
Namun terjebak dalam hal-hal remeh yang tak pernah membawa kita ke mana.
Dan saat maut mendekat,
Kita berpura-pura siap, dengan kepala tegak.
Namun ironinya, kita tak pernah siap,
Karena selama ini, hidup hanyalah sandiwara yang kita akui palsu tapi tetap kita mainkan.
Di akhir cerita, saat tirai ditutup tanpa tepuk tangan,
Kita akan menyadari betapa kosongnya semua pertanyaan.
Bukan karena jawabannya tak pernah ada,
Tapi karena selama ini, kita mencari sesuatu yang tak pernah nyata.
Ironisnya, kita semua tahu, namun terus berpura-pura.

Komentar
Posting Komentar